Untuk Mereka Yang Sakit Featured

Firman Allah Azza Wa Jalla;

وَلَنَبْلُوَنَّكُمْ بِشَيْءٍ مِنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنْفُسِ وَالثَّمَرَاتِ ۗ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ

“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira kepada orang-orang yang sabar” (QS. Al Baqarah 155)

Sabda Rasulullah Shalallahu 'Alaihi Wa Sallam;

مَا مِنْ مُسْلِمٍ يُصَابُ بِمُصِيْبَةٍ – وَجَعٍ أَوْ مَرَضٍ – إٍلَّا كَانَ كَفَّارَةَ ذُنُوْبِهِ، حَتَّى الشَّوْ كَةُ يُشَاكُهَا، أَوِالنَّكْبَةُ

“Tidaklah seorang muslim ditimpa musibah (derita atau sakit berkepanjangan hingga sampai ajalnya) melainkan itu menjadi kaffarah (penebus) dosa-dosanya hingga sekalipun yang menusuknya atau bencana” (HR. Muslim)

Saudara-saudariku yang semoga Allah Azza Wa Jalla senantiasa merahmatinya sepanjang usianya. Apabila ada orang yang bilang kepada kita: “Berarti kalau orang kena sakit itu banyak dosanya ya?”

Maka jawabannya bisa iya dan tidak bisa begitu juga. Hanya Allah Azza Wa Jalla yang tahu diri kita masing-masing. Pertama, kalau kita melihat seseorang terkena penyakit, maka kita harus khusnudzan kepada dianya.

Bisa jadi bukan karena dosa, tetapi yang jelas bahwa penyakit yang menimpa akan menghapuskan dosa-dosa. Bisa jadi karena Allah Azza Wa Jalla ingin mengangkat derajat orang itu. Hanya Allah Yang Mahatahu dan kita tidak boleh berburuk sangka kepada orang lain.

Walau demikian, jikalau diri kita yang terkena penyakit (kesusahan), maka hendaklah kita ber-khusnudzan kepada Allah Azza Wa Jalla dan yuk su’udzan (buruk sangka) dengan diri kita sendiri.

Mungkin kita banyak dosa batin di hadapan Allah Azza Wa Jalla atau mungkin kita kelihatan baik di mata manusia, maka hanya Allahlah Yang Mahatahu.

Kedua, yang sangat menakutkan adalah dosa-dosa terselubung di dalam hati sanubari kita. Sebab dosa hati ini orang lain tidak akan pernah bisa melihatnya dan hanya kita yang bisa merasakannya.

Oleh sebab itu kita harus memperbanyak tobat dan memohon ampun (istighfar) semoga Allah Azza Wa Jalla menerima tobat dan mengampuni seluruh dosa-dosa kita.  

Allah Azza Wa Jalla berfirman;

وَذَرُوا ظَاهِرَ الْإِثْمِ وَبَاطِنَهُ

“Dan tinggalkanlah dosa lahir maupun batin”  (QS. Al An’am 120)

Sebagaimana yang kita tahu bahwasanya dosa itu dua kategorinya. Dosa yang terlahir, yakni terlihat mata, terdengar telinga, atau teraba oleh indera, dan dosa batin (hati).

Contoh dosa batin (hati) antara lain meninggalkan kewajiban ikhlas, tidak sabar, tidak yakin takdir, tidak tawakkal, tidak mencintai-Nya sepenuh hati, dan tidak takut kepada-Nya.

Termasuk dosa hati adalah berburuk sangka kepada orang yang belum atau sudah dikenalnya, menyepelekan orang lain dalam hatinya, atau hatinya penuh dengan kemunafikan.

Sedangkan dosa batin yang sedang mewabah saat ini melakukan kesombongan karena merasa hebat atas kelebihan yang dimilikinya: kecantikan/ketampananan/harta benda.

Begitu juga riya’ atau suka pamer ketaatan atau kebaikan, hasad atau dengki, dan ujub atau berbangga atau takjub dengan amal ibadahnya yang hebat dibandingkan orang lain.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda;

ألا وإن في الجسد مضغة إذا صلحت صلح الجسد كله، وإذا فسدت فسد الجسد كله، ألا وهي القلب

“Ketahuilah, sesungguhnya di dalam jasad ini ada segumpal daging, apabila ia baik, baiklah seluruh jasadnya dan apabila ia rusak, maka rusaklah seluruh jasadnya. Ketahuilah, segumpal daging tersebut adalah hati” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ternyata hati itu adalah menjadi dasar kebaikan dan kerusakan amalan lahir dan batin. Jika hati seseorang rusak maka berdampak pada kerusakan amal anggota tubuh yang terlahir.

Karena itu pantaslah jika Allah Azza Wa Jalla melihat kita hanya hati dan amalnya saja, sebagaimana sabda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam;

إِنَّ الله لاَ يَنْظُرُ إِلَى صُوَرِكُمْ وَلاَ إِلَى أَمْوَالِكُمْ وَلَكِنْ يَنْظُرُ إِلَى قُلُوبِكُمْ وَأَعْمَالِكُمْ

“Sesungguhnya Allah tidaklah melihat kepada bentuk-bentuk tubuh dan harta-harta kalian akan tetapi melihat kepada hati-hati dan amal-amal kalian” (HR. Muslim)

Setiap dosa lahir penyebabnya adalah kerusakan dalam hati masing-masing orang. Pengaruh rusaknya hati seseorang bisa menyebabkan dosa lahiriah yang berjemaah.

Dosa lahir, seperti berjudi, mengundi nasib, minum khamr (mabuk), mencuri, membunuh, berani sama orang tua atau sejenisnya diketahui bahwa itu adalah dosa-dosa besar yang bisa diinderai manusia.

Banyak pelaku dosa lahir tersadar setelah dirinya melakukan kesalahan. Sehingga pelakunya sadar bahwa dirinya telah mengerjakan dosa. Dan hal ini lebih mudah untuk diajak bertaubat dari dosa-dosa tersebut.

Contohnya, Nabi Adam ‘Alaihis Salam, beliau pernah melakukan dosa yang jenisnya lahir, yaitu makan buah pohon yang terlarang (buah khuldi). Atas taufik Allah Azza Wa Jalla Nabi Adam ‘Alaihis Salam bertekad kuat bertaubat.

Maka Allah Azza Wa Jalla pun memudahkan taubat beliau. Allah Azza Wa Jalla berfirman tentang penyesalan dan taubat Nabi Adam ‘Alaihis Salam dan istrinya, Siti Hawa;

قَالَا رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Keduanya berkata: “Ya Tuhan Kami, Kami telah menganiaya diri Kami sendiri, dan jika Engkau tidak mengampuni Kami dan memberi rahmat kepada Kami, niscaya pastilah Kami termasuk orang-orang yang merugi” (QS. Al A’raf 23)

Dan Allah Azza Wa Jalla menerima taubat keduanya sebagaimana yang terdapat dalam surat Thaha ayat 122.

ثُمَّ اجْتَبٰىهُ رَبُّهٗ فَتَابَ عَلَيْهِ وَهَدٰى

“Kemudian Tuhannya memilih dia, maka Dia menerima tobatnya dan memberinya petunjuk” (QS. Thaha 122)

Berbeda halnya dengan iblis, dosanya jenis dosa hati, sombong, maka berat baginya bertaubat. Mari kita lihat firman Allah Azza Wa Jalla dan bandingkanlah dengan sikap bertobatnya Nabi Adam ‘Alaihis Salam di atas;

وَإِذْ قُلْنَا لِلْمَلَائِكَةِ اسْجُدُوا لِآدَمَ فَسَجَدُوا إِلَّا إِبْلِيسَ أَبَىٰ وَاسْتَكْبَرَ وَكَانَ مِنَ الْكَافِرِينَ

“Dan ingatlah ketika Kami berfirman kepada para malaikat: “Sujudlah kamu kepada Adam, maka bersujudlah mereka kecuali iblis, dia enggan dan takabur dan dia termasuk golongan orang-orang yang kafir” (QS. Al Baqarah 34)

Oleh karena itu marilah kita memeriksa dosa batin dan lahir yang pernah kita lakukan. Kita harus berusaha bertobat darinya dan barangsiapa yang Allah terima tobat dosa batinnya niscaya Allah akan membimbingnya untuk tobat dari kemaksiatan lahir.

Sesungguhnya ketaatan batin itu lebih utama daripada ketaatan lahir. Di dalam kitab Madarijus Salikin (1/121), setelah menyebutkan beberapa contoh amalan hati, Ibnul Qoyyim Rahimahullah menjelaskan bahwa;

“Amalan wajib hati lebih wajib daripada amalan wajib anggota tubuh lahir, adapun amalan sunah hati lebih dicintai oleh Allah daripada amalan sunnah lahir. Dari sini kita dapat mengambil pelajaran sebagaimana ketaatan batin lebih utama daripada ketaatan lahir, maka dosa besar hati lebih besar dari dosa besar lahir.”

Ibnul Qoyyim Rahimahullah juga menjelaskan: “Dosa-dosa besar, seperti riya’ (pamer ketaatan), ujub (bangga/takjub terhadap amal), kibr (sombong), fakhr (membanggakan amal), khuyala (angkuh), putus asa, tidak mengharap rahmat Allah, merasa aman dari makar Allah, riang gembira atas penderitaan kaum muslimin, senang atas musibah yang menimpa mereka, senang dengan tersebarnya fahisyah (maksiat) di tengah-tengah mereka, dengki terhadap anugerah Allah kepada mereka, berangan-angan anugerah tersebut hilang dari mereka, dan hal-hal yang mengikuti dosa-dosa ini yang statusnya lebih haram dari zina, meminum minuman keras, dan dosa-dosa besar yang zahir selain keduanya” (Madarijus Salikin,Ibnul Qoyyim Rahimahullah 1/133).

Bengkel Manusia Indonesia Bukan Sembarang Bekam 1999...!

Penyembuhan Diabetes, Ginjal, Jantung, Skizofrenia, Medis/Non Medis | #AMAN #NYAMAN #STERIL #PAKAIPISAUBEDAH #ANTIJARUMLANCHET #ANTISILET | Pusat: Town House Anggrek Sari Blok G/2 Batam | Cabang: Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi | Tel./SMS/WA (+62) 813-2871-2147 Email: info@terapioksidan.or.id | Melayani Panggilan Antarkota, Dalam & Luar Provinsi, Luar Negeri | Menerima Pasien Rawat Inap dari Dalam & Luar Negeri | Klik: Booking Online | Baca Ulasan: Bekam Jarum Menyelisihi Dalil