Ya’juz dan Ma’juz Bagian (2)

Monday, 18 March 2019 22:40 Written by  Published in Religi Read 2656 times

Tanda-tanda kiamat besar (kubra) ditandai dengan keluarnya Al Masih Ad Dajjal, Imam Mahdi, Ya’juj dan Ma’juj, dan turunnya nabi ‘Isa ‘Alaihis Sallam.

Yang paling menegangkan adalah terbitnya matahari dari barat, dan tanda-tanda dahsyat lainnya. Pada tulisan ini, saya lebih khusus membahas tentang makhluk yang bernama Ya’juj dan Ma’juj.

Walau demikian, dari beberapa referensi yang ada, Yak’juj dan Ma’juj menandai kepastian tanda datangnya kiamat.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wa Sallam bersabda;

إِنَّ السَّاعَةَ لاَ تَكُوْنُ حَتَّى تَكُوْنَ عَشْرُ آيَاتٍ: خَسْفٌ بِالْمَشْرِقِ، وَخَسْفٌ بِالْمَغْرِبِ، وَخَسْفٌ فِي جَزِيْرَةِ الْعَرَبِ، وَالدُّخَانُ، وَالدَّجَّالُ، ودَابَّةٌ، وَيَأْجُوْجُ وَمَأْجُوْجُ، وَطُلُوْعُ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا، وَنَارٌ تَخْرُجُ مِنْ قَعْرِ عَدَنٍ تَرْحَلُ النَّاسَ، وَنُزُوْلُ عِيْسَى بْنِ مَرْيَمَ

“Hari Kiamat tidak akan terjadi sehingga kalian melihat sepuluh tandanya; (1) penenggelaman permukaan bumi di timur, (2) penenggelaman permukaan bumi di barat, (3) penenggelaman permukaan bumi di jazirah Arab, (4) keluarnya asap, (5) keluarnya Dajjal, (6) keluarnya binatang besar, (7) keluarnya Ya’juj wa Ma’juj, (8) terbitnya matahari dari barat, dan (9) api yang keluar dari dasar bumi ‘Adn yang menggiring manusia, serta (10) turunnya ‘Isa bin Maryam Alaihissallam” (HR. Muslim No. 2901 | HR. Abu Dawud No. 4311 | HR. At Tirmidzi No. 2183) | HR. Ibnu Majah No. 4055 | HR. Imam Ahmad IV/6).

Sebelum mengulas Ya’juj dan Ma’juj lebih dalam, mari kita sama-sama membuka Alquran surat Al Kahfi (juz ke-18) mulai ayat 83 sampai 100. Allah uraikan kisah Dzulkarnain dan Ya’juj Ma’juj.

وَيَسْأَلُونَكَ عَنْ ذِي الْقَرْنَيْنِ ۖ قُلْ سَأَتْلُو عَلَيْكُمْ مِنْهُ ذِكْرًا

Mereka akan bertanya kepadamu (Nabi Muhammad) tentang Dzulkarnain. Katakanlah: “Aku akan bacakan kepadamu cerita tentangnya” (QS. Al Kahfi 83)

إِنَّا مَكَّنَّا لَهُ فِي الْأَرْضِ وَآتَيْنَاهُ مِنْ كُلِّ شَيْءٍ سَبَبًا

Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya (Dzulkarnain) di muka bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan untuk mencapai segala sesuatu (QS. Al Kahfi 84)

فَأَتْبَعَ سَبَبًا

Maka diapun menempuh suatu jalan (QS. Al Kahfi 85)

حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ مَغْرِبَ الشَّمْسِ وَجَدَهَا تَغْرُبُ فِي عَيْنٍ حَمِئَةٍ وَوَجَدَ عِنْدَهَا قَوْمًا ۗ قُلْنَا يَا ذَا الْقَرْنَيْنِ إِمَّا أَنْ تُعَذِّبَ وَإِمَّا أَنْ تَتَّخِذَ فِيهِمْ حُسْنًا   

Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbenam matahari, dia melihat matahari terbenam di dalam laut yang berlumpur hitam, dan dia mendapati di situ segolongan umat. Kami berkata: “Hai Dzulkarnain, kamu boleh menyiksa atau boleh berbuat kebaikan terhadap mereka” (QS. Al Kahfi 86)

قَالَ أَمَّا مَنْ ظَلَمَ فَسَوْفَ نُعَذِّبُهُ ثُمَّ يُرَدُّ إِلَىٰ رَبِّهِ فَيُعَذِّبُهُ عَذَابًا نُكْرًا

Berkata Dzulkarnain: “Adapun orang yang aniaya, maka kami kelak akan mengazabnya, kemudian dia kembalikan kepada Tuhannya, lalu Tuhan mengazabnya dengan azab yang tiada taranya (QS. Al Kahfi 87)

وَأَمَّا مَنْ آمَنَ وَعَمِلَ صَالِحًا فَلَهُ جَزَاءً الْحُسْنَىٰ ۖ وَسَنَقُولُ لَهُ مِنْ أَمْرِنَا يُسْرًا

Adapun orang-orang yang beriman dan beramal saleh, maka baginya pahala yang terbaik sebagai balasan, dan akan kami titahkan kepadanya (perintah) yang mudah dari perintah-perintah kami (QS. Al Kahfi 88)

ثُمَّ أَتْبَعَ سَبَبًا

Kemudian dia menempuh jalan (yang lain) (QS. Al Kahfi 89)

حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ مَطْلِعَ الشَّمْسِ وَجَدَهَا تَطْلُعُ عَلَىٰ قَوْمٍ لَمْ نَجْعَلْ لَهُمْ مِنْ دُونِهَا سِتْرًا

Hingga apabila dia telah sampai ke tempat terbit matahari (sebelah Timur) dia mendapati matahari itu menyinari segolongan umat yang Kami tidak menjadikan bagi mereka sesuatu yang melindunginya dari (cahaya) matahari itu (QS. Al Kahfi 90)

كَذَٰلِكَ وَقَدْ أَحَطْنَا بِمَا لَدَيْهِ خُبْرًا

Demikianlah. Dan sesungguhnya ilmu Kami meliputi segala apa yang ada padanya (QS. Al Kahfi 91)

ثُمَّ أَتْبَعَ سَبَبًا

Kemudian dia menempuh suatu jalan (yang lain lagi) (QS. Al Kahfi 92)

حَتَّىٰ إِذَا بَلَغَ بَيْنَ السَّدَّيْنِ وَجَدَ مِنْ دُونِهِمَا قَوْمًا لَا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ قَوْلًا

Hingga apabila dia telah sampai di antara dua buah gunung, dia mendapati di hadapan kedua bukit itu suatu kaum yang hampir tidak mengerti pembicaraan (QS. Al Kahfi 93)

قَالُوا يَا ذَا الْقَرْنَيْنِ إِنَّ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مُفْسِدُونَ فِي الْأَرْضِ فَهَلْ نَجْعَلُ لَكَ خَرْجًا عَلَىٰ أَنْ تَجْعَلَ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ سَدًّا

Mereka berkata: “Hai Dzulkarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerusakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka? (QS. Al Kahfi 94)

قَالَ مَا مَكَّنِّي فِيهِ رَبِّي خَيْرٌ فَأَعِينُونِي بِقُوَّةٍ أَجْعَلْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ رَدْمًا

Dzulkarnain berkata: “Apa yang telah dikuasakan oleh Tuhanku kepadaku terhadapnya adalah lebih baik, maka tolonglah aku dengan kekuatan (manusia dan alat-alat), agar aku membuatkan dinding antara kamu dan mereka (QS. Al Kahfi 95)

آتُونِي زُبَرَ الْحَدِيدِ ۖ حَتَّىٰ إِذَا سَاوَىٰ بَيْنَ الصَّدَفَيْنِ قَالَ انْفُخُوا ۖ حَتَّىٰ إِذَا جَعَلَهُ نَارًا قَالَ آتُونِي أُفْرِغْ عَلَيْهِ قِطْرًا

Berilah aku potongan-potongan besi hingga apabila besi itu telah sama rata dengan kedua (puncak) gunung itu, berkatalah Dzulkarnain: “Tiuplah (api itu)”. Hingga apabila besi itu sudah menjadi (merah seperti) api, diapun berkata: “Berilah aku tembaga yang mendidih agar aku kutuangkan ke atas besi panas itu (QS. Al Kahfi 96)

فَمَا اسْطَاعُوا أَنْ يَظْهَرُوهُ وَمَا اسْتَطَاعُوا لَهُ نَقْبًا

Maka mereka tidak bisa mendakinya dan mereka tidak bisa (pula) melubanginya (QS. Al Kahfi 97)

قَالَ هَٰذَا رَحْمَةٌ مِنْ رَبِّي ۖ فَإِذَا جَاءَ وَعْدُ رَبِّي جَعَلَهُ دَكَّاءَ ۖ وَكَانَ وَعْدُ رَبِّي حَقًّا

Dzulkarnain berkata: “Ini (dinding) adalah rahmat dari Tuhanku, maka apabila sudah datang janji Tuhanku, Dia akan menjadikannya hancur luluh dan janji Tuhanku itu adalah benar (QS. Al Kahfi 98)

وَتَرَكْنَا بَعْضَهُمْ يَوْمَئِذٍ يَمُوجُ فِي بَعْضٍ ۖ وَنُفِخَ فِي الصُّورِ فَجَمَعْنَاهُمْ جَمْعًا

Kami biarkan mereka di hari itu bercampur aduk antara satu dengan yang lain, kemudian ditiup lagi sangkakala, lalu Kami kumpulkan mereka itu semuanya (QS. Al Kahfi 99)

وَعَرَضْنَا جَهَنَّمَ يَوْمَئِذٍ لِلْكَافِرِينَ عَرْضًا

Dan Kami tampakkan Jahannam pada hari itu kepada orang-orang kafir dengan jelas (QS. Al Kahfi 100)

Asal Ya’juj dan Ma’juj

Dalam surat Al Kahfi ayat 94 disebutkan Ya’juj dan Ma’juj. Menurut ahli lughah ada yang menyebut isim musytaq dan memiliki akar kata dari bahasa Arab, berasal dari ajaja an nar, artinya jilatan api atau dari Al Ajjah (bercampur atau sangat panas), Al Ajju (cepat bermusuhan), Al Ijajah (air yang memancar keras) dengan wazan maf’ul atau yaf’ul/fa’ul.

Menurut Abu Hatim, Ma’juj berasal dari maja yaitu kekacauan. Ma’juj berasal dari mujuj yaitu malaja. Namun, menurut pendapat yang shahih, Ya’juj dan Ma’juj bukan isim musytaq tapi merupakan isim ‘ajam dan laqab (julukan). Para ulama sepakat, bahwa Ya’juj dan Ma’juj termasuk spesies manusia.

Mereka berbeda dalam menentukan siapa nenek moyangnya. Ada yang menyebutkan dari sulbi nabi Adam ‘Alaihis Salam dan Siti Hawa atau dari nabi Adam saja. Ada juga yang menyebut dari sulbi Nabi Nuh ‘Alaihis Salam dari keturunan Syis atau At Turk menurut hadis Ibnu Katsir.

Sebagaimana dijelaskan dalam tarikh, Nabi Nuh ‘Alaihis Salam memiliki tiga anak; Sam, Ham, Syis/At Turk. Ada lagi yang menyebut keturunan dari Yafuts bin Nuh. Menurut Al Maraghi, Ya’juj dan Ma’juj berasal dari satu ayah yaitu Turk, Ya’juj adalah At Tatar (Tartar) dan Ma’juj adalah Al Maghul (Mongol), namun keterangan ini tidak kuat.

Mereka tinggal di Asia bagian Timur dan menguasai dari Tibet, China sampai Turkistan Barat dan Tamujin. Mereka dikenal sebagai Jengis Khan (berarti raja dunia). Kemudian pada abad ke-7 H di Asia Tengah menaklukan Cina Timur. Ditakklukan oleh Quthbuddin bin Armilan dari Raja Khuwarizmi yang diteruskan oleh anaknya Aqthay.

Batu anak saudaranya menukar dengan negara Rusia tahun 723 H dan menghancurkan Babilon dan Hongaria. Kemudian digantikan Jaluk dan dijajah Romawi dengan menggantikan anak saudaranya Manju, diganti saudaranya Kilay yang menaklukkan Cina.

Saudaranya Hulako menundukkan negara Islam dan menjatuhkan Bagdad pada masa daulah Abasia ketika dipimpin Khalifah Al Mu’tashim Billah pertengahan abad ke-7 H / 656 H. Ya’juj dan Ma’juj merupakan kaum yang banyak keturunannya.

Menurut mitos, mereka tidak mati sebelum melihat seribu anak lelakinya membawa senjata. Mereka taat pada peraturan masyarakat, adab, dan pemimpinnya. Ada yang menyebut mereka berperawakan sangat tinggi sampai beberapa meter dan ada yang sangat pendek sampai beberapa centimeter. Konon, telinga mereka panjang, namun mitos ini tidak berdasar Alquran dan hadis.

Merujuk tafsir Al Kahfi ayat 94, Ya’juj dan Ma’juj merupakan kaum (makhluk) yang kasar dan biadab perangainya. Apabila mereka melewati perkampungan akan membabat semua yang menghalangi, merusak, dan membunuh penduduk. Oleh karena itu, ketika Dzulkarnain datang, mereka minta dibuatkan benteng pemisah (dinding) agar mereka tidak dapat menembus dan mengusik ketenangan penduduk.

Raja Dzulkarnain

Siapa Dzulkarnain? Menurut versi orang barat, Dzulkarnain adalah Iskandar bin Philips Al Maqduny Al Yunany (orang Mecedonia, Yunani). Dia berkuasa selama 330 tahun. Membangun Iskandariah dan murid Aristoteles. Memerangi Persia dan menikahi puterinya. Mengadakan ekspansi ke India dan menaklukkan Mesir.

Menurut Asy Syaukany, pendapat di atas sangat sulit diterima oleh akal dan keyakinan umat Islam, sebab hal ini mengisyaratkan bahwa dia seorang kafir dan filosof. Sedangkan Alquran menyebutkan dan menegaskan tentang Dzulkarnain;

“Sesungguhnya Kami telah memberi kekuasaan kepadanya (Dzulkarnain) di muka bumi, dan Kami telah memberikan kepadanya jalan untuk mencapai segala sesuatu (QS. Al Kahfi 84).

Menurut sejarawan muslim, Dzulkarnain merupakan julukan Abu Karb Al Himyari atau Abu Bakar bin Ifraiqisy dari daulah Al Jumairiyah (115 SM - 552 M). Kerajaannya disebut At Tababi’ah. Dijuluki Dzulkarnain (pemilik dua tanduk), karena kekuasaannya yang sangat luas, mulai ujung tanduk matahari di barat sampai timur.

Menurut Ibnu Abbas, dia (Dzulkarnain) adalah seorang raja yang shalih. Dia seorang pengembara dan ketika sampai di antara dua gunung, yakni antara Armenia dan Azzarbaijan. Atas permintaan penduduk setempat, Raja Dzulkarnain membangun benteng (dinding). Para arkeolog menemukan benteng tersebut pada awal abad ke-15 M di belakang Jeihun dalam ekspedisi Balkh dan disebut sebagai “Babul Hadid” (Pintu Besi) di dekat Tarmidz.

Arkeolog Timurleng pernah melewatinya, demikian juga Syah Rukh dan ilmuwan German Slade Verger. Arkeolog Spanyol Klapigeo pada tahun 1403 H pernah diutus oleh Raja Qisythalah di Andalus ke sana dan bertamu pada Timurleng. Dijelaskan bahwa Babul Hadid adalah jalan penghubung antara Samarqindi dan India. (Tulisan bagian kedua, habis)

Bengkel Manusia Bukan Sembarang Bekam...!

Berdiri Sejak 1999 | Pengobatan Diabetes, Ginjal, Jantung, Skizofrenia, Medis/Non Medis (Gangguan Gaib/Sihir) & Lain-lain | #STERIL #PISAUBEDAH #ANTIJARUM #ANTISILET | Alamat Pusat: Town House Anggrek Sari Blok G/2 Batam Kepulauan Riau Indonesia | Cabang: Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, Bekasi | Tel./SMS/WA (+62) 813-2871-2147 Email: info@terapioksidan.or.id | Melayani Panggilan Antarkota Dalam & Luar Provinsi - Luar Negeri | Menerima Pasien Rawat Inap dari Dalam dan Luar Negeri | Reservasi: Klik Di Sini...!